Sewaktu Prof Engkus menerangkan 4 teori pers di kelas teori komunikasi, pikiran saya melayang pada realitas yang terjadi di Indonesia. Kira-kira di mana Indonesia ditempatkan di teori-teori itu?
Oleh: Mochamad Yusuf*
Pikiran itu rasanya klop saat kasus mafia pajak meledak. Semua media massa membahas. Mereka berlomba-lomba mendapatkan berita yang pertama dan eksklusif. Karena itu TV One sampai berusaha menghadirkan narasumber markus (saya sendiri tak menonton tayangan ini). Namun kemudian narasumber ini melaporkan ke polisi, bahwa TV One memaksanya menjadi markus gadungan.
Hal ini saya kira karena media massa sekarang sudah bisnis oriented. TV misalnya, targetnya adalah rating. Jadi yang akan dikejar apa yang sekarang lagi digemari oleh penonton. Karena itu apakah itu benar, atau tak dalam, dan banyak pertanyaan yang masih digali, tak akan dilakukan selama ratingnya masih oke.
Media massa tak akan berusaha untuk menguak kebohongan, kejanggalan atau kesalahan dalam sesuatu hal. Lebih enak untuk mengutip dari pihak yang berwenang, dan tak berusaha untuk mengeceknya lagi.
Karena motivasi rating ini, tak salah kalau kemudian sebuah headline di hari-hari berikutnya sudah berubah lagi. Padahal kasus yang sebelumnya belum tuntas bahkan hanya diungkap kulitnya. Karena media massa sekarang bukan seperti dulu, di mana idealisme menegakkan kebenaran dan mengungkap kebohongan.
Seperti hari ini headline koran lokal Surabaya tentang panasnya politik Thailand. Kasus Gayus sudah tak ada lagi di headline. Padahal sebenarnya buat apa melihat kasus Thailand, apakah Indonesia lebih baik dari Thailand? Dan kasus mafia pajak masih mengangga lebar yang masih banyak misteri yang harus dipecahkan.
Sekarang mungkin kita harus melupakan media massa di jaman kemerdekaan, yang wartawannya idealis. Lupakan. Sebenarnya saya tak meminta kembali ke jaman dulu (karena realitasnya hidup memang butuh makan, hehehe), tapi minimal berimbanglah antara berita ‘rating’ dan berita idealisme.
Kalau tidak, orang akan meninggalkan media massa saat ini, dan mencari media altrenatif. Dan media internetlah saat ini yang diburu. Padahal media internet belumlah kredibel. Jadi, kita tunggu saja dan amati apa yang akan terjadi saat ini dan mendatang.
Anda punya pendapat?
~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.
Tags: kasus gayus, kasus tv one, mafia pajak, markus
[...] “Markus dan TV One” – http://blog.jitu.web.id/?p=7 [...]
Siapakah yang sebenarnya ‘mengendalikan’? Rakyat mengendalikan headline media massa? Ataukah tema rakyat ditentukan oleh headline media massa?
siapa yang menguasai media dialah yang menguasai dunia.
contoh kasus “georgia” dan kasus kerusuhan di Iran. Ada beberapa photo yang dicrop dan berita diputar balikkan. hehehe
@Gaous
Sy tak tahu kasus ‘georgia’ dan iran itu. Yang mana ya? Bisa aku diberitahu.
Betul mas media keliru mas, Gayus bukan markus. Sekali lagi bukan. dalam birokrasi, Gayus disebut sebagai “Celengan”. Semua sogokan pihak lintas institusi (yang mengurusi pengadilan pajak) dari pihak ketiga, semuanya disimpan oleh Gayus. Gayus dipilih dan dipercaya oleh pihak lintas institusi untuk mengelola uang suap pengadilan pajak. uang celengan ada agar tak dapat dilacak siapa (instansi/perorangan )yang terima suap. Kalau dahulu namanya “Dantis” (Dana Taktis) tp sdh berhasil dibongkar oleh KPK jilid I. Instansi sebesar pajak pasti tak ada yang perhatikan gerak-gerik siapa Gayus (Gol II/d jd Gol III/a). Apabila aset dan tabungan disita dan diblokir tak masalah bagi Gayus karena uang dan aset itu bukan milik Gayus. Semua departemen memiliki personil Celengan. Kasihan Gayus ….